Kamis, 01 Mei 2014

PULAU SARONDE, Surga di Bibir Pacific



Pulau Saronde, Surga di bibir Pacific.

Taman Surga di bibir Pacific, itulah kata yang tepat untuk menggambarkan keindahan dan kemolekan Pulau Saronde. Pulau mungil yang merupakan bagian dari Kecamatan Ponelo Kepulauan, Kabupaten Gorontalo Utara, memiliki keindahan alam laut yang luar biasa. Pasir putih yang halus berpadu dengan batu-batu hitam yang besar, menjadikan pulai ini terlihat sangat eksotik. Air lautnya yang jernih, membuat kita dapat melihat bunga-bunga karang yang asri dikedalaman 1,5 – 2 meter. Sungguh pemandangan yang mempesona.
Pasir putih, dan batuan warna hitam.
Untuk mencapai Pulau Saronde, tidak begitu sulit. Dari Kota Gorontalo, kita bisa menggunakan kendaraan darat menuju Kwandang, ibu kota Kabupaten Gorontalo Utara. Jarak antara Kota Gorontalo dengan Kwandang, sekitar 50 km, dengan waktu tempuh sekitar satu sengah jam. Dari Kwandang menuju Pulau Saronde, kita bisa naik perahu “katin-ting” dengan sewa sekitar Rp. 200.000,- . Dari pelabuhan Kawandang menuju Pulau Saronde, ditempuh dengan waktu kurang lebih satu jam perjalanan. Ada banyak perahu nelayan yang siap mengantar kita ke Saronde, jika harga carter perahu disepakati. Memang belum ada angkutan penyeberangan yang regular untuk mengangkut wisatawan yang berkunjung ke Saronde. Mungkin karena belum banyak pengunjung yang berwisata ke pulai ini.
Air laut yang jernih
Perjalanan saya ke Pulau Saronde bukanlah tujuan utama. Sebenarnya, saya ingin mengunjungi program-program yang dibiayai PNPM Mandiri Perdesaan di Kecamatan Ponelo Kepulauan. Karena sudah lama saya dengar cerita keindahan Pulau Saronde, maka saya sempatkan diri untuk mengunjungi polau ini. Untuk itu, saya minta Wilco, FK Kecamatan Ponelo Kepulauan, mempersiapkan perahu yang lebih baik, agar saya bisa menyeberang ke Saronde.
Rabu (30 Maret 2014), pagi jam 6.00, saya tinggalkan kamar kos saya menuju Kwandang. Sekitar jam 7,30 saya sudah tiba di pelabuhan Kwandang. Sambil menunggu perahu yang akan mengantar saya ke Ponelo dan Saronde, saya menyempatkan diri sarapan pagi di area pelabuhan. Tepat jam 8.00, Wilco memberi tahu saya kalau perahu sudah siap diberangkatkan. Kami tinggalkan pelabuhan Kwandang, jam 8.15 menuju Pulau Saronde. Sengaja kami langsung ke Pulau Saronde, karena di pagi hari laut masih teduh.
Sepanjang perjalanan menuju Pulau Saronde, kami disuguhi pemandangan alam laut yang sangat elok. Biru laut yang teduh, berpadu dengan warna kehijauan gugusan pulau-pulau dengan nyiur melambai, menjadikan perjalan satu jam terasa singkat. Terumbu karang di kedalam 2 meter, terlihat jelas dari atas kantinting. Iakn-ikan karang terlihat bergerombol bermain di sela-sela karang yang masih perwan. Sungguh perjalanan yang mengasyikkan…

Kami tiba di Pulau Saronde jam 9,15. Wilco bersama adik sepupunya, memasang jangkar dan mengikatkan perahu. Saya sedikit terperangah melihat hamparan pasir putih yang begitu luas dengan biru laut yang kontras, menjadikan pemandangan “ibarat lukisan” sang maestro. Kondisi pulau sangat sepi, hanya ada seorang prempuan paru baya sedang menyapu di sekitar gazebo yang sudah disiapkan untuk pengunjung. Sepertinya, hari itu hanya kami yang mengunjungi pulai ini.
Setelah beristirahat sejenak, kami menyempatkan diri mengelilingi pulau yang lebarnya sekitar 3 heaktar ini. Disisi barat Pulau Saronde terdapat gugusan batu besar di sela-sela hutan mangrove yang masih tersisa. Melihat jenis batuannya, kelihatannya ini bukan batu karang, tapi seperti batuan gunung berapi (batu vulakno). Batu-batu besar seukuran kerbau tersebut bertebaran menambah keunikan pulau ini. Air mulai surut, sehingga membuat kami leluasa melihat terumbu karang yang ada disekitar pulau. Rumput padang lamun melambai-lambai karena terbawa arus pasang. Kami tak hentin-hentinya mengagumi keindahan Saronde…
Mendorong Perahu
Puas mengelilingi pulau, kami menganti pakaian untuk mandi. Sekitar satu jam kami berendam di air laut yang jernih. Sambil bermain dengan “bintang laut” yang banyak menghiasi pesisir Saronde, saya merenung; betapa indahnya negeri ini, tapi mengapa masih banyak nelayan disekitar Saronde yang hidupnya miskin ? Dari informasi yang saya peroleh, bahwa Pulau Saronde sudah di kontrakkan kepada swasta. Dan mudah-mudahan masyarakat di sekitar Saronde masih bisa memperoleh manfaat dari kegiatan pariwisatanya.

Dapat iakan karang, hehehehe
Jam 12.00, kami bergegas meninggalkan Saronde. Air surut membuat perahu kami kandas, sehingga harus menunggu sekitar 15 menit untuk mendorongnya ke laut. Setelah berjuang sekitar 10 menit, barulah perahu kami dapat kembali mengapung dan siap meninggalkan Saronde. Sebelum kembali ke Kawandang, kami menyempatkan singgah di gugusan karang untuk memancing. Dengan alat pancing tradisional, saya dan Wilco mencoba peruntungan. Setelah lima menit pancing kami turunkan, Wilco lebih dulu mendapat ikan batu (jenis kerapuh). Tidak lama kemudian saya pun berhasil menaikkan satu ikan karang dengan ukuran telapak tangan. Luar bisas, saya betul-betul menikmati perjalanan hari ini….

1 komentar:

  1. Sungguh pesona alam yang luar biasa dan memberikan kepuasan tersendiri untuk pak Wahyu Kessa. I like your travelling, tapi alangkah baiknya kalo berkunjung kesana lagi suatu saat nanti, ajak2 donk. Salah satu hobby saya yaitu snorkling kanda....

    BalasHapus