Rabu, 12 Februari 2014

USMAN-HARUN


Apa arti sebuah nama ?, demikian ungkapan yang sering kita dengar. Tapi tidaklah demikian bagi pemerintah dan masyarakat Singapura, Negara tetangga kita yang sangat maju itu, rupanya “nama” punya arti yang sangat penting. Ketika kita memberi nama salah satu kapal perang kita dengan nama “USMAN-HARUN”, Pemerintah Singapura sangat tersinggung dan keberatan. Alasannya; Usman dan Harun adalah teroris, yang melakukan pengeboman terhadap sebuah bank bernama McDonald's House yang menewaskan tiga orang dan melukai 22 warganya. Meski telah dijelaskan bahwa “dua Pahlawan Nasional” itu bukanlah pelaku aksi terror. Sersan Usman Haji Mohamad Ali dan Kopral Harun Said, adalah anggota Marinir yang menjalankan tugas negara, jadi tidak pantas disebut sebagai “teroris” oleh pemerintah dan masyarakat Singapura. Tetapi pihak Singapura tetap tidak bisa menerima. 

SEBENARNYA, kitalah yang harus marah dan tersinggung karena dua pahlawan bangsa itu disebut teroris oleh pemerintah Singapura. Tetapi kita tidak mempersoalkannya, itu karena kita memahami arti memberi maaf.

Pembelajaran apa yang dapat kita petik dari kasus ini ? .
Menurt saya, setidaknya ada dua hal yang membuat nama Usman Harun muncul menjadi masalah. Pertama, bahwa hubungan diplomatic Negara-negara Asean sudah mulai tidak mesra lagi. Paling tidak, kewibawaan forum ini sudah mulai pudar, mungkin karena kehilangan tokoh pemersatunya. Ini terlihat, setiap ada perbedaan dan pertentangan antar anggota negeri serumpun ini, sepertinya mengabaikan nilai-nlai kebersamaan dan saling pengertian yang menjadi dasar berdirinya forum Negara-negara Asia Tenggara. Negara-negara maju di kawasan ini ( sebut saja; Singapura dan Malaysia) terkesan “memandang enteng” Negara tentangganya.  

Kedua; mungkin pihak Singapura tidak akan mempersoalkan pemberian nama “Usman-Harun”, jika nama itu diberikan kepada salah satu kapal penumpang PT. PELNI. Menurt informasi, KRI Usman Harun merupakan kapal patroli lepas pantai jenis korvet, yang memiliki peralatan tempur yang lumayan baik. Kapal ini dilengkapi misil MBDA Exocet Block II anti-ship serta VL MICA anti-air. Misil jenis Exocet mampu melesat hingga 72 km dengan kecepatan 1,134 km per jam. Sementara, VL Mica mampu melesat hingga 80 km untuk menjatuhkan serangan pesawat tempur. Selain itu, Meriam Oto Melara 76mm menjadi kekuatan utama kapal ini, bertengger di dek bagian depan. Meriam ini dapat digunakan sebagai pertahanan atas tembakan kapal lawan dan menargetkan serangan udara. Senjata ini mampu menembakkan 110 butir amunisi dengan jarak tembak sejauh 16 km. KRI Usman Harun juga dilengkapi sensor dan radar jammer menjadi salah satu kelebihan lainnya. Thales Sensors Cutlass 242 dan Scorpion radar jammer ini mampu mencegah serangan dari kapal musuh. Dengan mesin penggerak, empat MAN 20 RK270 dipasang di kedua sisi kapal, KRI Usman Harun mampu melesat dengan kecepatan hingga 30 knot. Tiga kapal sejenis ini yang dimili TNI Angkatan Laut merupakan buatan BAE Systems Marine di Inggris . Jadi kemungkinan Singapuran keberatan bukan soal nama Usman Harun, tapi lebih kepada kekhawatiran dengan keberdaan tiga kapal baru yang dimiliki oleh Angkatan Laut RI tersebut.

Terlepas dari dua asumsi tersebut di atas, sebaiknya kedua pemimpin Negara ini perlu membangun komunikasi yang lebih elegan, dewasa dan saling menghargai. Tidak seperti sekarang ini, Perdana Menteri Singapura menghapus Presiden SBY dari pertemanannya di FB. Sungguh sangat kekanak-kanakan…!!!